Site icon Sekolah Tahfizh Plus Khoiru Ummah

Perjuangan Ulama di Nusantara: Menjaga Akidah dan Tumpah Darah

“Jangan sekali-kali melupakan sejarah” adalah semboyan terkenal yang diucapkan oleh Soekarno, dalam pidatonya yang terakhir pada Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1966. Karena suatu bangsa atau umat akan kehilangan integritasnya ketika perjuangan pendahulunya dihapuskan dalam catatan sejarah.

Ananda shalih dan shalihah, berbicara tentang sejarah Nusantara, wilayah itu meliputi kepulauan yang terpisah-pisah dari Sabang sampai Merauke ditambah wilayah Malaysia, Singapura, Brunei dan sebagian kecil Filipina bagian selatan atau disebut sebagai kawasan Hindia-Timur.

Memasuki abad Ke-16 M, bangsa Portugis dan Spanyol memasuki Nusantara dan merebut Malaka sebagai pusat niaga Islam di bawah kekuasaanya Afonso de Albuquerque. Penyerangan kesultanan Aceh dan kesultanan Demak terhadap Kolonial dilancarkan guna menguasai kembali Malaka. Kemudian, lari ke selatan dan menguasai Sunda Kelapa, namun berhasil direbut kembali oleh Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati). Di lain tempat mereka menguasai Mataram, namun Sultan Baabullah bisa merebutnya kembali dari tangan Portugis, sehingga tahun 1527 M para Sultan beserta para ulama dan santri mampu mengusir Portugis dari tanah air.

Memasuki abad Ke-17 M, penjajah Belanda dan Inggris menjajah tanah air dan mendirikan Verenigde Oost Indische Compagnie (VOC) dan East Indian Company (EIC) pada tahun 1602 M. Para penjajah mengalami perlawanan sengit dari para Ulama dan Santri, juga para Sultan: Sultan Hasanuddin Makassar, dan dari Mataram Sultan Agung, begitupun di Jawa Pangeran Diponegoro, di Sumatera ada Imam Bonjol memimpin perang Padri 1821-1837M. Syekh Abdul Shomad Al-Palembangi, Syekh Arsyad Albanjari, Syekh Muqoyyim dan Kyai Abbas di Cirebon, Habib Ali Habsyi Kwitang di Jakarta, Habib Ustman bin Husein Al Alaydrus dari Bandung, Kyai Ahmad Sanusi dari Sukabumi, Syekh Syubkhi dikenal dengan Ulama Bambu Runcing. Dan masih banyak lagi.

Sejarah bergulir menginjak abad berikutnya, untuk membangkitkan politik nasional sebagai perlawanan politik Belanda, muncul sosok Umar Said Tjokrominoto (pada usia muda 30 Tahun) dan kawannya Haji Agus Salim meneruskan Sjarikat Islam sebagai wadah umat Islam agar mau berorganisasi menggalang persatuan dan kesatuan. Dari situlah umat Islam akan memiliki kekuatan, dan hanya dengan kekuatan itulah akan memperoleh kemenangan. Dari kemenanganlah kita akan mencapai kemerdekaan.

Sjarikat Islam pun berhasil membawa banyak sekali masa pendukungnya. Dan peran serta pergerakan Sjarikat Islam sangat mempengaruhi dalam melawan penjajahan, bahkan ditakuti bangsa kolonial pada waktu itu.

Di samping itu, para Ulama juga memaksimalkan potensi jalur pendidikan pesantren sebagai basis persiapan masa depan bangsa, maka dari sinilah akan lahir tokoh-tokoh penggerak nasional. Lahirlah tokoh besar KH. Ahmad Dahlan jebolan pesantren, dengan mendirikan organisasi Persyarikatan Muhammadiyah 18 November 1912 M sebagai wadah yang berperan mencerdaskan anak bangsa di tengah kebodohan akibat penjajahan. Melalui lembaga pendidikan di berbagai daerah, hingga luar pulau Jawa.

Menyusul, muncullah sosok Syekh Hasyim Asy’ari mendirikan “Nahdhlotul Ulama” pada 13 Januari 1926 M sebagai wadah kebangkitan para Ulama untuk meneguhkan Ajaran Ahlusunnah Wal Jamaah dan membentengi umat dan bangsa dari paham Kristenisasi, Sekulerisasi dan Liberalisasi. Sehingga bisa terjalin dan tertata secara rapi pergerakan para Ulama.

Para Ulama NU inilah yang kemudian hari akan menjadi penggerak di setiap daerah masing-masing melawan penjajahan dan melindungi tanah air. Sehingga meletusnya Resolusi Jihad Nahdhotul Ulama 22 Oktober 1945, kemudian di lanjut Resolusi jihad 7 November 1945 yang dipelopori oleh para Ulama, Santri dan kaum muslimin.

Ananda shalih dan shalihah, tak terbantahkan bukti nyata kiprah para Ulama yang selalu berjuang sesuai dengan tantangan zamannya. Mereka tidak hanya memahami permasalahan agama, melainkan juga permasalahan duniawi dari sudut pandang agama sehingga bisa membangkitkan semangat umatnya untuk berjuang mengusir penjajah dan memperjuangkan tegaknya Islam di bumi Nusantara. Kemerdekaan negeri ini berhutang banyak kepada kaum ulama dan santri, dan tugas kitalah untuk melanjutkan perjuangan para ulama agar negeri ini menjadi baldatun thayibatun. Insya Allah, dengan berpedoman pada Al Qur’an dan Sunnah Nabi Saw hal itu akan terwujud. Allahu Akbar!