Muharram: Refleksi dan Muhasabah

Hingar bingar kerap mewarnai pergantian tahun masehi, namun apakah hingar bingar sudah cukup mewakili suka cita menyambut momen pergantian tahun? Apakah pergantian tahun hijriyyah tak boleh kalah meriah? Atau adakah hal lain yang justru penting dan tak boleh dilewatkan dari momen pergantian tahun ini?

Ananda shalih dan shalihah, atas hal ini kita diingatkan oleh Imam Al-Ghazali yang mengutip QS Al-Hasyr ayat 18. Ayat ini mengandung keutamaan muhasabah dan mengisyaratkan kita untuk selalu melakukan muhasabah atau refleksi diri atas perbuatan yang telah dilakukan.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah. Hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok. Bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS al Hasyr ayat 18).

Bahkan ananda shalih dan shalihah, sayyidina Umar ra, menurut Imam Al-Ghazali, menganjurkan kita untuk selalu melakukan muhasabah.

“Hendaklah kalian lakukan muhasabah atas diri kalian sebelum kalian dihisab. Timbanglah perbuatan kalian sebelum ia kelak ditimbang.” (Imam Al-Ghazali, Ihya Ulumiddin, [Beirut, Darul Fikr: 2018 M], juz IV, halaman 419).

Mengapa kita perlu melakukan muhasabah atau refleksi diri?

Jawabannya adalah karena karakteristik waktu yang berjalan begitu cepat, bahkan tanpa disadari kini kita sudah berada di penghujung tahun hijriyyah. Awal tahun hadir untuk menggantikan lembaran-lembaran lama dengan lembaran yang baru. Sebagaimana firman Allah ta’ala,

كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا عَشِيَّةً أَوْ ضُحَاهَا

Artinya, “Pada hari ketika mereka melihat hari Kiamat itu (karena suasananya hebat), mereka merasa seakan-akan hanya (sebentar saja) tinggal (di dunia) pada waktu sore atau pagi hari.” (QS An-Nazi’at ayat 46).

Imam Al-Manawi berkata,
اَلْوَقْتُ كَالسَّيْفِ إِذَا لَمْ تَقْطَعْهُ قَطَعَكَ
Artinya, “Waktu adalah pedang. Jika kau tidak (pandai) memainkannya, maka ia akan memotongmu.” (Imam Al-Manawi, Faidhul Qadir, [Beirut, Darul Kutub Ilmiah, cetakan pertama: 1994 M\1415 H], juz IV, halaman 670).

Ananda shalih dan shalihah, jika waktu yang akan datang tidak kita manfaatkan untuk beramal shalih maka bisa dipastikan amal yangs alah serta maksiatlah yang akan kita lakukan. Sebuah kerugian yang sangat besar ketika hari-hari berlalu begitu saja tahun tanpa ada manfaat yang didapatkan. Sebagaimana ditegaskan oleh Syekh Zainuddin Abdurrahman bin Ahmad bin Rajab bin Hasan As-Sulami Al-Baghdadi Ad-Dimisyqi (wafat 795 H),

أَلَيْسَ مِنْ الْخُسْرَانِ أَنَّ لياليا * تمرُ بِلا نَفْعٍ وَتُحْسَبُ مِنْ عُمْرِي

Artinya, “Bukankah termasuk kerugian, bila malam-malam berlalu tanpa ada manfaat padahal juga dihitung (jatah) umurku?” (Ibnu Rajab, Ghada’ul Albab Syarah Manzumatil Adab, [Dar Ibnu Hazm lit Thab’ah wan Nasyr, cetakan pertama: 2004], juz II, halaman 348).

Ananda shalih dan shalihah, mari kita maknai momen pergantian tahun ini dengan melakukan muhasabah atas segala amal perbuatan. Terus memacu ketaatan dam ketakwaan. Semoga kita bisa memanfaatkan waktu yang masih kita miliki dengan melakukan amal-amal shalih terbaik.

slot gacor

slot gacor hari ini

bolavitaslot

slot gacor

bolavita

s1288poker

s1288poker

s1288poker

s1288poker

s1288poker

s1288poker

mbo128

slot qris

mbo128

slot qris

mbo128

slot qris

mbo128

rtp live

mbo128

sv388

mbo128

piala dunia 2026

agens128

sv388

mbo128

mbo128 login

live casino

mbo128

slot qris

situs slot qris

bolavita

bolavita

sbobet

sv388

daftar sbobet