Site icon Sekolah Tahfizh Plus Khoiru Ummah

Menyambut Ramadhan

“Ramadhan tiba…Ramadhan tiba…Ramadhan tiba…Marhaban yaa Ramadhan!”

Siapa saja tentu bahagia saat bulan Ramadhan tiba. Penuh suka cita kita menyambut dan berlomba-lomba melakukan kebaikan selama bersamanya. Namun, mengapa Ramadhan begitu spesial bagi kita? Yuk kita simak bersama!

Allah Swt berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat inggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur” (QS. Al Baqarah ayat 185)

Dalam tafsirnya Imam Ath Thabari menjelaskan makna الشهر yang dikatakan oleh sebagian ulama berasal dari kata الشهرة memiliki arti dikenal banyak orang. Jika dikatakan أشهرْنا نحن /asy-harna nahnu/ artinya kita telah memasuki suatu bulan. Beliau melanjutkan, “Sedangkan رمضان /ramadhan menurut sebagian ahli balaghah arab yang menyatakan bahwa dinamakan demikian karena hawa begitu menyengat panasnya di bulan itu, hingga bayi pun merasa kepanasan” (Tafsir Ath Thabari, 3/444)

الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ
“bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an” Ayat ini adalah bukti bahwa Al Qur’an pertama kali diturunkan di bulan Ramadhan pada malam Laylatul Qadr. Sedangkan بَيِّنَاتٍ /bayyinaat memiliki arti sebagai dalil dan hujjah yang jelas bagi orang yang memahami dan mentadabburinya, sehingga menunjukkan bahwa Al Qur’an itu benar-benar sebuah petunjuk yang menafikan kesesatan dan sebuah pedoman yang menafikan penyimpangan. Al Qur’an juga diturunkan sebagai pembeda antara haq dan batil, antara halal dan haram” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/502)

Ayat ini menjadi dalil bahwa Al Qur’an adalah landasan hukum Islam yang diturunkan kepada semua manusia, baik itu muslim ataupun bukan. Ibnu Katsir menerangkan bahwa makna شَهِدَ adalah melihat istihlal (munculnya hilal) di bulan itu, dan ia orang yang muqim (tidak sedang safar) ketika memasuki bulan itu, dan badannya sehat (Tafsir Ibni Katsir, 1/503)

Lalu bagaimana jika kita sedang sakit atau melakukan perjalanan/safar, bukankah akan sangat sulit jika tetap berpuasa? Tetap wajibkah kita berpuasa?

Di ayat yang sama Allah Swt menjawabnya,
,
وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain” Jika sebelumnya dijelaskan hukum puasa bagi yang tidak bersafar dan dalam kondisi sehat, maka lafaz ini menjelaskan tentang hukum puasa bagi orang yang bersafar atau sakit. Ibnu Katsir menjelaskan, “maksudnya barangsiapa yang menderita sakit hingga membahayakan dirinya jika puasa, atau minimal bisa memberikan gangguan, atau yang sedang bersafar maka mereka boleh tidak berpuasa. Jika mereka tidak berpuasa, mereka wajib menggantinya di hari-hari yang lain” (Tafsir Ibni Katsir, 1/503).

Mengapa demikian?

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu” Bolehnya musafir dan orang yang sakit untuk tidak berpuasa adalah bukti bahwa Allah memberikan kemudahan kepada hamba-Nya dalam syariat-Nya. Adanya kemudahan ini adalah bentuk nyata kasih sayang Allah yang begitu luar biasa untuk hamba-Nya. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw:

إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ ، وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلاَّ غَلَبَهُ ، فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا

“Sesungguhnya agama itu mudah. Orang yang berlebihan dalam agama akan kesusahan. Maka istiqamahlah, atau mendekati istiqamah, lalu bersiaplah menerima kabar gembira” (HR. Bukhari)

Allahu Akbar! Ananda shalih dan shalihah, mari persiapkan diri untuk menyambut bulan Ramadhan dengan membuat rencana amal terbaik dan semangat untuk mengamalkannya!