Site icon Sekolah Tahfizh Plus Khoiru Ummah

Islam Hadir untuk Memerdekakan Manusia dari Menghamba Kepada Sesama Makhluk, Kepada RabbNya Makhluk

“Merdeka!” teriak kita setiap kali menyambut dirgahayu hari kemerdekaan. Tapi, pernahkan sejenak kita merenungkan arti hakiki dari kemerdekaan itu sendiri? Sudahkah kita benar-benar merdeka 24 karat? Untuk menjawab hal ini, mari sejenak kita flash back sejarah, ketika pasukan muslimin hendak menaklukkan kerajaan Persia.

Dalam futuhat tersebut, ada sebuah kisah yang bisa menjadi sandaran rumusan kemerdekaan Islam. Kisah tersebut terjadi saat panglima Romawi Rustum meminta kepada komandan Saad bin Abi Waqqosh mengirimkan utusannya. Saat itu Saad bin Abi waqqosh berencana mengutus beberapa utusan kepada Rustum, namun saat musyawarah muncul Rib’i bin Amir menyatakan usulannya kepada Saad.

Rib’i bin Amir berkata bahwa bangsa Ajam (non Arab) memiliki tradisi mereka sendiri, kalau kita mendatangi mereka dengan jumlah banyak, mereka akan mengira bahwa kita menganggap mereka mulia. Oleh karena itu saya berpendapat bahwa cukup satu orang saja yang diutus kepada mereka. Perkataan Rib’i bin Amir ini mendapat persetujuan dari Saad bin Abi Waqqosh. Kemudian diutuslah seorang Rib’i bin Amir kepada Rustum.

Rib’i bin Amir pergi mendatangi undangan Rustum dengan menggunakan baju yang sangat sederhana sekali, sarung pedang dari balutan baju dan kuda yang kecil seolah memberi pesan kepada bang Persia bahwa harta yang kalian agung-agungkan tidak ada nilainya di sisi kami. Saat tiba dipelataran tenda Rustum , Rib’i bin Amir disuruh turun dari kudanya, bukannya turun, beliau malah terus menunggangi kudanya dan menginjak permadani yang telah dihamparkan. Saat sudah berada di hadapan Rustum beliau mengikatkan tali kudanya ke bantal yang ada di sana.

Apa yang dilakukan Rib’i bin Amir ini bukanlah tanpa sebab. Beliau melakukan hal itu dalam rangka meruntuhkan mental pasukan Persia yang begitu mengagungkan harta. Rustum bertanya kepada Rib’i bin Amir,”Risalah apa yang kalian bawa?”.

الله ابتعثنا، والله جاء بنا، لنخرج من شاء من عبادة العباد، إلى عبادة الله، ومن ضيق الدنيا إلى سعتها، ومن جور الأديان إلى عدل الإسلام

Rib’i menjawab,”Allah mengutus kami untuk mengeluarkan manusia dari penghambaan terhadap sesama hamba menuju penghambaan kepada Sang pencipta. Membawa manusia dari sempitnya dunia menuju kelapangan dunia dan akhirat… Menyelamatkan manusia dari kezaliman agama-agama menuju keadilan yang diwujudkan oleh Islam. ”

Apa yang dilakukan oleh Rib’i bin Amir terhadap bangsa Persia mencerminkan kemerdekaan jiwa yang dimiliki oleh seorang muslim. Dia tidak merasa rendah di hadapan para pemuja harta, dia tidak merasa hina berhadapan dengan para penguasa, karena dia memiliki jiwa yang merdeka, dimerdekakan oleh ketauhidan.

Dari kisah di atas kita dapat mengambil pelajaran bahwa tauhid telah melepas ikatan yang membelenggu manusia dari keterjajahan hakiki, keterjajahan yang bukan sekedar keterjajahan fisik, militer dan ekonomi, melainkan juga keterjajahan pemikiran dengan dominasi pemikiran sekuler dan kufur yang meletakkan hak menilai dan membuat hukum kepada hawa nafsu manusia.

Spirit tauhid yang mengajarkan peribadatan dan penghambaan hanya kepada Allah semata membentuk jiwa yang memerdekakan diri dari belenggu penghambaan kepada sesama manusia.

Maka, islamlah jalan kemerdekaan hakiki. Merdeka!